Showing posts with label Uncategorized. Show all posts
Showing posts with label Uncategorized. Show all posts
Vietnam merupakan salah satu negara yang berada di Asia Tenggara (Southeast Asia). Dengan populasi yang mencapai 92,7 juta jiwa, menempatkan Vietnam sebagai negara dengan penduduk terbesar ketiga di Asia Tenggara setelah Indonesia dan Filipina. Negara ini adalah negara paling timur diantara negara-negara lainnya di Asia Tenggara yang berada di Semenanjung Indochina.

Secara perekonomian, Vietnam berada jauh dibawah Indonesia. Negara ini memiliki pendapatan per kapita 2.185,69 USD. Sementara Indonesia memiliki pendapatan per kapita yang mencapai 3.570,29 USD. Dengan populasi yang lebih besar dan pendapatan per kapita yang lebih besar pula, otomatis Indonesia memiliki PDB (Produk Domestik Bruto) yang lebih besar dibandingkan. PDB Indonesia mencapai angka 932, 3 miliar USD. Sementara PDB Vietnam hanya 202,6 miliar USD.

Dengan tingkat perekonomian yang lebih tinggi, tidak selalu membuat Indonesia unggul dari Vietnam. Salah satunya bila dilihat berdasarkan perkembangan kota-kota di kedua negara. Indonesia memang memiliki Kota Jakarta yang unggul telak dibandingkan kota-kota di Vietnam. Namun Indonesia kalah dalam hal pemerataan pembangunan kota.

Jakarta bila dibandingkan dengan kota terbesar kedua di Indonesia yaitu Surabaya, tampak begitu jomplang perbedaannya. Baik dilihat dari segi infrastruktur, perekonomian dan populasi. Berbeda dengan Vietnam. Dua kita terbesar di Vietnam yaitu Saigon dan Hanoi, boleh dibilang dalam posisi yang relatif setara. Saigon memegang status sebagai kota terbesar di Vietnam, sementara status kota terbesar kedua dipegang oleh Hanoi

Kota Saigon dan Kota Hanoi (Foto : Flickr.com, channelnewsasia.com)

Gambar diatas merupakan gambar dari dua kota terbesar di Negara Vietnam. Gambar pertama adalah Kota Saigon (Ho Chi Minh), sedangkan gambar kedua adalah kota Hanoi. Bila dilihat secara kasat mana, tidak ada perbedaan yang mencolok diantara kedua kota ini. Kondisi kedua kota ini kelihatan nyaris berimbang dalam berbagai hal. Entah itu dalam hal infrastruktur maupun dalam hal pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit. Ini menunjukan bahwa pembangunan di Vietnam tidak hanya fokus di satu kota saja. Berbeda dengan yang terjadi di Indonesia selama ini pembangunannya hanya fokus di Kota Jakarta.

Bila kita Bandingkan antara Kota Jakarta dengan Kota Surabaya, akan tampak perbedaan yang sangat mencolok. Seperti yang kita singgung sebelumnya, pembangunan di Indonesia sangat terfokus di Kota Jakarta. Jadi, kota-kota selain Kota Jakarta pembangunannya jauh tertinggal. Misalnya dalam pembangunan sistem angkutan cepat (rapid transit). Surabaya yang notabene merupakan kota terbesar kedua di Indonesia, belum ada satupun angkutan cepat yang sedang dibangun di sana. Berbeda dengan Kota Jakarta yang saat ini sedang gencar melakukan pembangunan angkutan cepat seperti MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit).

Hal sebaliknya justru terjadi di Vietnam. Vietnam juga sama seperti Indonesia yang mana kota di sana baru memulai melakukan pembangunan angkutan cepat, khususnya dalam pembangunan MRT (Mass Rapid Transit). Kalau Indonesia hanya membangun MRT di Kota Jakarta saja, Vietnam justru membangun MRT di dua kota sekaligus. Kota-kota tersebut merupakan dua kota yang kita bahas sebelumnya, yaitu Saigon dan Hanoi. Rencananya pembangunan MRT dikedua kota tersebut paling cepat akan selesai pada tahun 2020 mendatang.

Kota Da Nang (Foto : Booking.com)

Selain dua kota diatas, ada beberapa kota lainnya di Vietnam yang juga berkembang pesat. Diantaranya adalah Kota Da Nang dan Kota Nha Trang. Kondisi kedua kota ini tampak tidak jauh berbeda dengan Kota Surabaya di Indonesia, terutama bila dilihat dari keberadaan gedung-gedung pencakar langit.


Kota Nha Trang (foto : baomoi.com)

Salah satu keunggulan kota-kota di Vietnam adalah wilayahnya yang luas. Kota Saigon memiliki luas area yang mencapai 2.096,56 km². Sementara Hanoi memiliki area yang lebih luas lagi. Luas area Kota Hanoi adalah 3.328,9 km². Sedangkan Kota Haiphong yang merupakan kota terbesar ketiga di Vietnam memiliki area seluas 1.527,4 km². Dengan wilayah yang luas tersebut, menjadikan pengembangan kota-kota utama  di Vietnam tersebut akan lebih leluasa dimasa mendatang. Bandingkan dengan Jakarta dan Surabaya yang hanya memiliki area seluas 661,5 km² dan 350,5 km².
Asia Tenggara (Southeast Asia) merupakan salah satu regional yang paling berkembang pesat di Asia. Hal tersebut dapat dilihat dari perkembangan perekonomian yang pesat pada sejumlah negara di sana. Terutama negara-negara yang masuk dalam daftar 6 besar penggerak utama perekonomian Asia Tenggara. Negara-negara tersebut antara lain Indonesia, Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia dan Singapura.

Perkembangan pesat tersebut tercermin dari kehadiran gedung-gedung pencakar langit yang semakin menjamur, khususnya pada kota-kota di 6 negara yang disebutkan diatas. Pesatnya pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit membuat skyline kota di negara-negara tersebut semakin padat. Bagi yang belum tahu, skyline merupakan garis cakrawala yang terbentuk oleh daratan atau  kumpulan gedung. Dalam kamus Oxford, skyline didefinisikan sebagai an outline of land or buildings defined against the sky.

Bicara tentang skyline, mungkin kita perlu tahu seperti apa kondisi skyline dari kota-kota di Asia Tenggara untuk saat ini. Untuk itu pada kesempatan ini kita akan membahas tentang 15 kota dengan skyline terbaik di Asia Tenggara versi Kota Kita. Untuk lebih jelas, berikut adalah daftarnya.

1. Singapura

Foto : Flickr.com

Posisi pertama diduduki oleh Singapura. Boleh dibilang Singapura merupakan salah satu kota dengan skyline terbaik di Asia. Hal tersebut dapat dilihat dari padatnya gedung-gedung pencakar langit di di sana. Keterbatasan lahan membuat pembangunan gedung-gedung vertikal menjadi sesuatu yang mutlak di Singapura. Selain memiliki banyak gedung tinggi, Singapura juga meerupakan sebuah kota yang modern. Kota ini merupakan kota terkaya di Asia Tenggara bila dilihat berdasarkan pendapatan per kapita.

2. Bangkok

Foto : Flickr.com

Bangkok adalah kota terbesar di Thailand. Kota ini merupakan kota dengan skyline terbaik kedua di Asia Tenggara. Sama halnya seperti Singapura, Bangkok juga memiliki gedung-gedung pencakar langit yang padat. Apalagi gedung-gedung di Kota Bangkok ketinggiannya tampak begitu variatif sehingga menambah kesan cantik  skyline-nya.

3. Kuala Lumpur

Foto : Flickr.com

Kuala Lumpur merupakan kota dengan skyline terbaik ketiga di Asia Tenggara. Salah satu yang membuat skyline Kuala Lumpur tampak menarik adalah karena keberadaan Menara Kembar Petronas yang terkenal. Menara ini merupakan menara kembar tertinggi di dunia. Gedung-gedung pencakar langit di kota Kuala Lumpur juga cukup padat, meski tidak sepadat Singapura dan Bangkok. Kota ini merupakan kota terdepan di Asia Tenggara dalam kepemilikin gedung-gedung pencakar langit dengan ketinggian diatas 300 m.

4. Manila

Foto : Nairaland.com

Kota dengan skyline terbaik keempat di Asia Tenggara dipegang oleh Kota Manila. Manila merupakan kota terbesar di Filipina. Skyline di kota ini cukup padat.. Hanya saja karena penataan kotanya yang tidak terlalu baik, membuat skyline Manila tidak sebagus Singapura, Bangkok dan KL. Tidak jauh berbedalah dengan kondisi Kota Jakarta.

5. Jakarta

Foto : Detik.com

Jakarta berada diposisi kelima untuk skyline terbaik di Asia Tenggara. Gedung-gedung di kota terbesar di Indonesia ini bukannya kalah banyak bila dibandingkan kota-kota yang kita bahas sebelumnya. Jakarta hanya kalah dalam hal kerapatan gedung karena pembangunan gedung-gedung tinggi di Kota Jakarta yang cenderung menyebar. Kalau dilihat berdasarkan pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit dengan ketinggian diatas 200 m, Jakarta justru berada pada posisi teratas.

6. Hanoi

Foto : Vietyatourist.com

Boleh dibilang Hanoi tertinggal selangkah bila dibandingkan dengan empat kota sebelumnya. Kondisi gedung-gedung di Kota Hanoi masih kalah banyak dan kalah rapat. Namun ibukota Vietnam ini mengalami pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit yang pesat dalam beberapa tahun ini. Bahkan kota ini telah memiliki gedung dengan ketinggian diatas 300 m. Jakarta saja untuk saat ini belum memiliki gedung dengan ketinggian diatas 300 m. 

7. Saigon

Foto : Flickr.com

Saigon merupakan kota terbesar di Vietnam. Vietnam memang belum memiliki kota dengan skyline sebagus Singapura, Bangkok, KL dan Jakarta. Namun negara ini beruntung karena memiliki dua kota dengan skyline yang tidak jauh berbeda. Antara Saigon dan Hanoi perbedaan skyline-nya memang tidak terlalu mencolok. Masih bisa diperdebatkan mana kota dengan skyline terbaik diantara kedua kota ini. 

8. Penang

Foto : Flickr.com

Penang merupakan salah satu kota utama tujuan wisatawan di Malaysia. Statusnya sebagai kota wisata membuat kebutuhan akan hunian menjadi meningkat di kota ini, khususnya bagi wisatawan. Inilah sebabnya Penang memiliki skyline yang cukup padat walaupun populasinya tidak terlalu besar. Hanya saja karena mayoritas gedung-gedung di Penang diperuntukan untuk hunian, menyebabkan desain gedung-gedung di sana tampak tak menarik. 

9. Johor Bahru

Foto : Flickr.com

Johor Bahru merupakan kota penghubung antara Malaysia dengan Singapura. Boleh dibilang Johor Bahru merupakan kota satelit bagi Singapura. Posisinya yang strategis membuat kota ini menjadi salah satu tujuan menarik untuk investasi. Salah satunya adalah investasi disektor properti. Apalagi Johor Bahru tidak membatasi kepemilikan properti oleh asing. Hal inilah yang membuat kota ini mengalami pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit yang cukup pesat. 

10. Pattaya

Foto : Flickr.com

Sama halnya seperti Penang, pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit di Kota Pattaya ditopang oleh sektor pariwisata. Tanpa sektor pariwisata, sudah pasti Pattaya tidak akan memiliki pencakar langit sebanyak saat ini. Pasalnya penduduk kota ini hanya 100 ribuan orang.

11. Surabaya

Foto : Skyscrapercity.com

Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Kota ini menjadi penghubung antara Indonesia bagian barat dengan Indonesia bagian timur. Pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit di Kota Surabaya tergolong pesat. Namun sama seperti Jakarta, keberadaan gedung-gedung pencakar langit di Kota Surabaya cenderung menyebar. 

12. Cebu

Foto : Skyscrapercity.com

Dari segi populasi, Cebu merupakan kota terbesar ketiga di Filipina. Namun untuk urusan skyline, Cebu berada diposisi kedua setelah Kota Manila. Kota Cebu mengalami pertumbuhan gedung-gedung pencakar langit yang cukup pesat dalam beberapa tahun belakangan. Imbasnya skyline kota ini tampak semakin padat. 

13. Da Nang

Foto : liveandinvestoverseas.com

Da Nang adalah kota dengan skyline terbaik ketiga di Vietnam. Padahal Da Nang sebenarnya merupakan kota terbesar keenam di Vietnam. Kota ini memiliki gedung-gedung pencakar langit yang relatif tinggi, walaupun sebenarnya jumlahnya tidak terlalu banyak. 

14. Tangerang

Foto : @yb2eya di Instagram

Tangerang adalah kota terbesar di Provinsi Banten. Sama seperti Da Nang, Tangerang juga memiliki gedung-gedung yang relatif tinggi walau jumlahnya tidak terlalu banyak. Dengan demikian skyline Kota Tangerang tampak cukup baik. 

15. Malaka

Foto : Skyscrapercity.com

Beberapa tahun lalu skyline Malaka tidak ada apa-apanya. Namun kota ini terus mengalami pertumbuhan pencakar langit yang pesat. Sekarang telah menjadi kota dengan skyline terbaik keempat di Malaysia. 
Transportasi publik adalah sarana transportasi yang dapat dipergunakan ketika penumpang tidak bepergian menggunakan kendaraan pribadi. Bagi sebuah kawasan urban atau perkotaan, keberadaan transportasi publik merupakan salah satu hal yang paling penting. Alasannya tentunya karena populasi diperkotaan yang besar sehingga mobilitas manusianya lebih tinggi. Bila keberadaan transportasi publik sebuah kota sudah memadai dan nyaman, penumpangpun pasti akan dengan senang hati beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik. Dengan demikian berbagai permasalahan perkotaan bisa diminimalisir. Salah satunya adalah kemacetan.

Bicara tentang transportasi publik di kawasan perkotaan, Indonesia termasuk sebagai salah satu negara yang tertinggal. Kebanyakan transportasi publik perkotaan di Indonesia masih mengandalkan transportasi berbasis jalan raya. Contohnya adalah bus dan angkot. Saat ini belum ada satupun kota di Indonesia yang memiliki transportasi publik dengan sistem rapid transit (angkutan cepat). Rapid transit merupakan sebuah transportasi perkotaan berbasis rel listrik dengan kapasitas dan frekuensi yang tinggi. Padahal sistem rapid transit merupakan sarana transportasi perkotaan yang sudah sangat umum dijumpai di kota-kota besar di dunia. Tidak usah jauh-jauh, di Asia Tenggara saja sudah ada beberapa kota yang sejak lama telah memiliki sistem rapid transit. Diantaranya adalah Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur dan Manila.

Sistem rapid transit di Singapura (foto : 99.co)

Ada fakta miris lainnya yang tidak banyak kita ketahui bahwa Indonesia telah tertinggal dari Ethiopia dalam hal transportasi publik. Ethiopia pada tahun 2015 lalu telah memiliki sistem rapid transit yang dibangun di Kota Addis Ababa. Sistem rapid transit tersebut diberi nama Addis Ababa Light Rail. Seperti yang kita ketahui, Ethiopia merupakan salah satu negara di Afrika yang masuk dalam kategori negara miskin. Walaupun Ethiopia berstatus negara miskin, namun nyatanya kita tertinggal dibandingkan mereka dalam menyediakan sistem rapid transit.

Addis Ababa Light Rail (foto : ethiosports.com)

Saat ini kita memang dalam kondisi tertinggal. Namun untungnya pemerintah sudah peduli dalam menyediakan sistem rapid transit bagi transportasi perkotaan. Saat ini sudah ada dua kota di Indonesia yang sedang membangun sistem rapid transit. Kedua kota tersebut adalah Kota Jakarta dan Kota Palembang. Jakarta saat ini sedang membangun MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rapid Transit). Untuk MRT direncanakan akan beroperasi pada 2019 dan LRT direncanakan akan beroperasi pada 2018. Sedangkan Kota Palembang sedang membangun LRT (Light Rail Transit) yang direncanakan akan beroperasi pada tahun 2018.

Jakarta MRT (Foto : Detik.com

Kita harapkan di masa-masa yang akan datang akan makin banyak kota di Indonesia yang membangun sistem rapid transit. Walaupun saat ini kita masih dalam kondisi tertinggal, namun bukan tidak mungkin di masa depan kita bisa memiliki lebih banyak kota yang yang memiliki sistem rapid transit dibandingkan negara-negara yang lebih dulu membangunnya.
Semakin hari semakin gencar munculnya wacana untuk memindahkan ibukota Indonesia. Semakin peliknya permasalahan yang dihadapi oleh Kota Jakarta menjadi salah satu alasannya. Penyebabnya tentu karena lonjakan penduduk Kota Jakarta yang tidak terkontrol. Jakarta yang menjadi pusat segala-galanya di Indonesia selalu menjadi pilihan bagi orang-orang luar Jakarta untuk mengadu nasib. Dengan membangun ibukota baru diharapkan dapat mengurai kepadatan Kota Jakarta.

Saat ini Kota Palangkaraya disebut-sebut sebagai calon terkuat untuk menggantikan Kota Jakarta sebagai ibukota Indonesia. Namun untuk membangun ibukota baru membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Anggaran membangun ibukota baru diperkirakan mencapai 100 triliun.

Namun ada cara alternatif lain untuk mengurai kepadatan Kota Jakarta, yaitu dengan membangun pusat pemerintahan yang terpisah dari Kota Jakarta. Jadi Jakarta tetap menjadi ibukota negara, tapi pusat pemerintahan berada di luar Jakarta. Kira-kira seperti yang diterapkan di Malaysia. Ibukota Malaysia tetap Kota Kuala Lumpur, namun pusat pemerintahan berada di Kota Putrajaya. Untuk pusat pemerintahan tersebut tentunya berada tidak terlalu jauh dari ibukota negara.

Kota Putrajaya di Malaysia (Foto : Astroawani.com)

Bila kita memilih metode pemisahan pusat adminstrasi pemerintahan negara dari ibukota negara, maka ada 5 daerah yang berpotensi menjadi kandidat. Berikut adalah 5 daerah tersebut.

Jonggol

Jonggol merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jonggol disebut-sebut sebagai daerah paling realistis untuk dipilih sebagai pusat pemerintahan Indonesia. Di masa pemerintahan Presiden Soeharto sudah ada wacana untuk melakukan pemindahan pusat pemerintahan ke Kecamatan Jonggol. Lokasinya berada 40 km disebelah tenggara Kota Jakarta.

Karawang

Karawang merupakan salah satu daerah di Provinsi Jawa Barat yang paling berkembang pesat. Saat ini daerah ini telah menjelma menjadi salah satu pusat industri. Daerah ini berjarak sekitar 60 km di sebelah timur Kota Jakarta.

Kertajati

Saat ini Kertajati berstatus sebagai sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Majalengka. Daerah ini akan dikembangkan dengan konsep aerocity yang terhubung langsung dengan Bandara Internasinal Kertajati. Jaraknya cukup jauh dari Kota Jakarta, yaitu sekitar 200 km.

Maja

Maja berjarak sekitar 60 km di sebelah barat Kota Jakarta. Maja merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pemerintah Indonesia tidak akan kesulitan melakukan pembebasan lahan bila Maja dipilih sebagai pusat pemerintahan negara. Sebagian tanah di Kecamatan Maja dimiliki oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)

Pulau Reklamasi Teluk Jakarta

Wacana ini sebenarnya tidak memindahkan pusat pemerintahan negara ke luar Jakarta, namun hanya dengan menambah lahan di utara Kota Jakarta dengan cara reklamasi. Wacana ini sempat mencuat saat Jokowi menjadi gubernur Provinsi DKI Jakarta. Pusat Pemerintahan akan ditempatkan di pulau reklamasi yang berbentuk seperti burung garuda.
Saat ini kembali mencuat wacana untuk melakukan pemindahan Ibukota Negara Indonesia. Berbagai permasalahakan yang terdapat di  Kota Jakarta selaku Ibukota Negara Indonesia dianggap telah menjadikan kota ini tidak layak menjadi ibukota negara. Apalagi penduduk Kota Jakarta sudah terlanjur padat sehingga sangat sulit untuk ditata. Kondisi Jakarta yang seperti itu tidak terlepas dari kesalahan yang dilakukan Pemerintah Indonesia selama-lama berpuluh-puluh tahun. Sebagai sebuah negara kesatuan, Indonesia menjadikan Jakarta sebagai pusat segala-galanya. Akibat kesalahan tersebut, pembangunan Indonesia jadinya hanya terpusat di Kota Jakarta dan Pulau Jawa pada umumnya.

Ada dua alasan utama mengapa ibukota Indonesia harus pindah, yaitu pemerataan pembangunan dan mengurai kepadatan Kota Jakarta. Kota Palangkaraya disebut-sebut menjadi kandidat utama calon ibukota baru Indonesia. Berbagai langkah konkritpun juga mulai dilakukan. Salah satunya adalah seperti yang dilakukan pemerintah Kalimantan Tengah yang telah menyiapkan lahan seluas 500 ribu hektar untuk lokasi calon ibukota baru Indonesia. Sementara Pemerintah Indonesia melalui Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) mulai mengkaji rencana pemindahan ibukota Indonesia tersebut. Menurut pihak Bappenas, kajian tentang pemindahan Ibukota Negara Indonesia akan rampung pada bulan Agustus 2017.

Palangkaraya, kandidat terkuat calon ibukota baru Indonesia (Foto : Okezone.com)

Namun apakah pemindahan ibukota negara benar-benar solusi terbaik bagi Indonesia? Ada sumber yang menyebutkan bahwa pemindahan Ibukota Negara Indonesia sekurang-kurangnya membutuhkan anggaran sekitar 100 triliun rupiah. Angka yang sangat fantastis tentunya. Kalau alasannya untuk pemerataan pembangunan, bukankah lebih baik anggaran sebesar itu dimanfaatkan untuk melahirkan pusat-pusat perekonomian baru? Indonesia memiliki sejumlah kota besar di luar Pulau Jawa yang dapat dimanfaatkan sebagai pusat-pusat perekonomian baru untuk alternatif Jakarta. Contohnya Kota Medan di Pulau Sumatera dan Kota Makassar di Pulau Sulawesi. Kedua kota ini sudah masuk dalam kategori kota metropolitan. Jadi anggaran yang besar tadi bisa dimanfaatkan untuk menggenjot pembangunan di Kota Medan ataupun Makassar agar perkembangannya bisa mendekati Kota Jakarta.

Sementara bila alasannya adalah untuk mengurai kepadatan Kota Jakarta, masih ada pilihan selain melakukan pemindahan ibukota negara. Caranya adalah dengan melakukan pemindahan pusat pemerintahan. Jadi, Jakarta tetap berstatus ibukota negara namun pusat pemerintahannya berada di luar Jakarta. Tentunya pusat pemerintahan tersebut berada di daerah yang masih relatif dekat dengan Kota Jakarta agar konektivitasnya masih dapat berjalan lancar. Salah satu negara yang menerapkan sistem seperti ini adalah negara tetangga kita Malaysia. Malaysia tetap menjadikan Kuala Lumpur sebagai ibukota negara namun pusat pemerintahan negaranya berada di Kota Putrajaya. Jadi, kepadatan Kota Kuala Lumpur bisa sedikit dikurangi dan Malaysia juga dapat mendirikan sebuah pusat pemerintahan yang tertata dengan baik. Ide seperti ini pernah muncul di masa pemerintahan presiden Soeharto. Saat itu pusat pemerintahan negara direncakan akan dipindahkan ke Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasinya berada sekitar 40 km dari Kota Jakarta.

Kota Putrajaya di Malaysia (Foto : Marinaputrajaya.com)

Memang harus diakui ada niat baik dibalik rencana pemindahan Ibukota Negara Indonesia. Namun kalau alasan untuk melakukan pemerataan pembangunan dan mengurai kepadatan Kota Jakarta, tidak harus dengan melakukan pemindahan ibukota segala. Daripada membangun sebuah ibukota negara yang baru, lebih baik membangun pusat-pusat perekonomian baru sehingga tidak semuanya harus terpusat di Kota Jakarta. Apalagi akan membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit untuk membangun sebuah ibukota negara yang baru.
Kota adalah pemukiman yang relatif besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. Daerah-daerah yang masuk dalam wilayah kota dikenal dengan sebutan kawasan perkotaan. Berdasarkan UU Nomor 26 tahun 2007, Indonesia mendefinisikan kawasan perkotaan sebagai suatu wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintah, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

Setiap kota dapat dibedakan kedalam beberapa klafisikasi. Untuk lebih jelasnya, berikut adalah macam-macam klasifikasi kota yang umum digunakan.

Foto : Businessinsider.com

Berdasarkan jumlah penduduk

Ada 5 macam klasifikasi kota berdasarkan jumlah penduduk, yaitu sebagai berikut :
  1. Kota kecil, yaitu kota yang memiliki populasi dibawah 100.000 jiwa. Contoh : Sabang, Bukittinggi dan Sibolga.
  2. Kota Sedang, yaitu kota yang memiliki populasi 100.000 sampai 500.000 jiwa. Contoh : Dumai, Kediri dan Palangkaraya.
  3. Kota Besar, yaitu kota yang memiliki populasi 500.000 sampai 1.000.000 jiwa. Contoh : Jambi, Balikpapan dan Denpasar. 
  4. Kota Metropolitan, yaitu kota yang memiliki populasi 1.000.000 sampai 5.000.000 jiwa. Contoh : Surabaya, Bandung dan Medan.
  5. Kota Megapolitan, yaitu kota yang memiliki populasi diatas 5.000.000 jiwa. Contoh : Jakarta.

Berdasarkan fungsi

Berdasarkan fungsi, kota dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
  1. Kota pusat produksi (production center), yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat produksi atau pemasok, baik yang berupa bahan mentah, barang setengah jadi, maupun barang jadi. Contoh : Bontang (LNG), Samarinda (batubara), dan Cilegon (baja). 
  2. Kota Pusat Perdagangan (center of trade and commerce), yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat perdagangan, baik untuk domestik maupun internasional. Contoh : Jakarta dan Surabaya.
  3. Kota Pusat Pemerintah (political capital), yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat pemerintahan atau sebagai ibukota negara. Contoh : Jakarta.
  4. Kota pusat kebudayaan (cultural center), yaitu kota yang memiliki fungsi sebagai pusat kebudayaan. Contoh : Yogyakarta dan Surakarta.
  5. Kota pusat hiburan (recreation center), yaitu kota yang memiliki berbagai destinasi yang menarik bagi orang-orang yang ingin melakukan rekreasi. Contoh : Batu. 

Berdasarkan sejarah awal

Berdasarkan sejarah awal, kota dapat diklarifikasikan sebagai berikut :
  1. Kota yang berawal dari pusat pertambangan. Contoh : Balikpapan, Tembagapura dan Sawahlunto.
  2. Kota yang berasal dari pusat perkebunan. Contoh : Bogor, Salatiga dan Jambi.
  3. Kota yang berawal dari pusat administrasi atau pusat kerajaan. Contoh : Medan, Jakarta dan Cirebon.

Berdasarkan tingkat perkembangan

Ada 6 klasifikasi kota berdasarkan tingkat perkembangan, yaitu sebagai berikut :

  1. Tingkat eopolis, yaitu suatu wilayah desa yang berkembang menjadi kota baru.
  2. Tingkat polis, yaitu suatu kota yang masih memiliki sifat agraris.
  3. Tingkat metropolis, yaitu kota besar yang perekonomian sudah mengarah ke industri.
  4. Tingkat megapolis, yaitu wilayah perkotaan yang terdiri atas beberapa kota metropolis yang lokasinya berdekatan, sehingga membentuk satu kesatuan kota yang sangat besar.
  5. Tingkat trianapolis, yaitu kota yang kehidupannya sudah dipenuhi oleh berbagai permasalahn sosial, seperti kesenjangan ekonomi, kemacetan lalu lintas dan kriminalitas.
  6. Tingkat nekropolis, yaitu suatu kota yang sedang menuju kehancuran.
Previous PostOlder Posts Home